Sabtu, 04 Januari 2020

KCI Ajak Semua Pengguna KRL Menncegah Pelecehan Seksual di Transpotasi Commuterline

Tags

Edukasi Mencegah Pelecehan Seksual di Transpotasi Umum
Transportasi umum pasti setiap orang pasti mengetahui dan sering memakai jasa Transportasi umum tersebut Seperti Bus, Pesawat, Kereta dan lainnya. 27 Desember 2019 Kemarin, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) bersama sejumlah kembali menggelar kampaye untuk mencegah pelecehan seksual yang sering terjadi transpotasi umum seperti commuterline.

Dalam kegiatan yang berlangsung di stasiun Jakarta Kota pada memaparkan berbagai upaya mencegah uoaya pencegahan pelecehan eksual di 80 stasiun KRL. Dengan mendemokan edukasi PT KCI mengajak semua pengguna untuk mengetahui pencegahan dan setelah kejadian pelecehan.
Bertemahkan “Transpotasi Yang Aman Untuk Semua”  dengan adanya media sosial sosialiasi tersebut, pengguna jasa KRL bisa melakukan dalam sendiri maupun orang lain yang menjadi korban pelecehan. Edukasi gak hanya dalam acara saja, semua edukasi pencegahan pelecehan seksual juga tayang pada media sosial KCI dan televisi di dalam KRL. Dalam dua tahun terakhir ini  PT KCI menjaga komitmen senantiasa menggelar kampaye “Komuter Pintar peduli Sekitar” dalam menyambut peringatan Hari Perempuan International.

Rika Rosvianti Founder Komunitas perEMPUan

Pelecehan seksual yang paling banyak kejadian di tempat sepi dan pulang jam kerja yang paling banyak lho. Jadi PT KCI dalan Ruang Publik AMAN (KRPA) memaparkan data dari hasil survei KPRA yang menemukansebanyak 46.80% responden surveinya di seluruh Indonesia. Transpotasi Umum (15.77%), Jalanan Umum (28.22%), bis (35.80%), angkot (29.49%), KRL(18.14%), ojek online (4.79%) , dan ojek konvensional (4.27%).

“Dari data survei KRPA, pelecehan yang sering terjadi transpotasi umum datang dalam bentuk verbal, fisil dan non fisik – mulai dari pelecehan verbal seperti siulan, suara kecupan, komentar atas tubuh, komentar seksual yang gamblang, komentar seksis, dan komentar rasis. Sementara bentuk fisik adalah main data, difoto secara diam-dian, intip, diklason, geastur vulgar, dipertontonkan masturbasi publik, dihadang, diperlihatkan kelamin, didekatin agresif secara terus menerus, diikuti/dikutit, hingga disentuh, diraba, dan digesek dengan alat kelamin. Penting untuk masyarakat tahu beragam bentuk pelecehan ini, agar dapat dipahami dan mau mengintervensi atau melaporkan saat mengetahuinya,” ungkap founder komunitas perEMPUan Rika Rosvianti.

Sufiyandoro dari komunitas ANKER Twitter
Sementara itu komunitas pengguna KRL Anker Twitter mengajak sesama pengguna KRL untuk lebih peduli dengan fenomena ini. “Kami mengajak para pengguna untuk meningkatkan perhatian pada lingkungan sekitar, khsuusnya kepada sesama pengguna KRL. Dengann mengingkatkan kepedulian dan kewaspadaan, kita dapat membantu pengguna yang mungkin sedang mengalami pelecehan seksual namun tidak berdaya untuk keluar dari situasi tersebut,” jelas sufiyandoro dari komunitas Anker Twitter.

PT KCI bersama komunitas berharap berbagai upaya kampaye dan kegiatan semacam ini dapat mendorong keberanian dari korban maupun saksi untuk bertindak melawan pelaku dan melaporkannnya ke pihak-pihak yang berwenang. Dari catatan KCI sendiri, keberanian saksi maupun korban untuk melaporkan pelecehan yang dialami mulai terlihat. Pada tahun 2019 ini terdapat 35 kasus yang dilaporkan. Tahun 2018 terdapat 34 kasus, sementara 2017 hanya 18 kasus.


Jadi kesimpulannya kita harus berani untuk bertindak dan mengedukasi kepada kerabat terdekat untuk mendorong pencegahan pelecehan seksual di transpotasi umum. Jangan seksi atau menor dalam berpakaian yang membuat pelaku mendekati.  Dalam kejadian kita harus membuat video 


EmoticonEmoticon